Hey, Amira!

Anonymous asked: I love you so much!

wow. jeez, thanks

buka halaman se…

Halaman 94: “…that only what fully and really exists can be fully or really known”

Halaman 115: ”..that we can neither prove nor disprove…”

Halaman 191: ”…that consciousness does not exists…”

Halaman 142: ”…that people are not what they should be because they are alienated…”

bolak

balik

halaman sekian, halaman sekian

dia, kamu

bisa, ketiadaan

setiap, terlempar

lalu

dimana?

my-cartouche:

that’s right!

my-cartouche:

that’s right!

(Source: littlelebowski, via femonster)

Miles Away From Millie

udah lama ya gue nggak tumblr? aduh maaf banget ya. kata temen-temen gue tepatnya temen-temen SePiLis gue tumblr itu tempatnya menggalau, mungkin bisa ditarik kesimpulan walaupun nggak logis juga bahwa gue yang belakangan tidak galau menjadi alasan gue belakangan nggak tumblr. dan fakta bahwa postingan ini galau makin mengafirmasi kesimpulan barusan. serba salah ya? hahaha

galau gue kali ini bercerita tentang hubungan gue dengan (eks) gadget gue. aneh kali ya punya hubungan khusus dengan gadget sampe bisa digalauin segala. tapi nggak ada salahnya dong ya, galau kan cair seperti seksualitas bisa ngegalauin apa aja seperti kita bisa tertarik pada apa dan siapa aja ;)

gadget gue ini gue kasih nama Millie. dia adalah sebuah laptop berwarna putih berukuran 13.3 inch, biasanya gue pakein case yang permukaannya kayak permukaan bola golf, warnanya putih pula. pertama kali bertemu Millie sekitar bulan Maret 2010. gue perlu Millie karena gue udah mau kuliah waktu itu, perlu sesuatu untuk menunjang pembelajaran gue waktu kuliah nanti entah itu untuk gue bikin tugas, presentasi, internet, dan sebagainya. pilihan gue jatuh pada Millie, setelah persetujuan finansial dan referensi dari bokap-nyokap gue. wow, sebuah privilege memang bisa memiliki Millie.

karena emang sebuah privilege untuk bisa memiliki Millie, gue nggak mau menyia-nyiakan kemampuan yang Millie punya dong. okelah, mungkin gue emang nggak jago-jago banget dalam hal memaksimalkan potensi sebuah laptop tapi setidaknya gue berkeinginan untuk bikin Millie se-asik dan se-nyaman mungkin buat gue berselancar di internet, iseng-iseng edit foto, motong lagu buat bikin ringtone, bikin presentasi yahud, nonton film, dan baaaanyak lagi. gue juga nggak mau menyia-nyiakan performance baterenya, mesinnya, dan lain sebagainya sampe akhirnya gue ubek-ubek thread khusus laptop-laptop semacam Millie di forum terkenal orang-orang Indonesia gimana cara ngerawat baterenya, gimana cara ‘menidurkan’ Millie supaya nggak cepet rusak, sampe cara-cara ngebersihin body Millie. well, selain karena gue nggak jago-jago banget ngoprek-ngoprek tampilan Millie, gue juga nggak mau Millie jadi aneh-aneh banget. jadi bagian-bagian yang mengubah penampilan desktop tralala trilili nggak gue sentuh sama sekali.

Millie juga jadi tempat nyimpen segala kenangan gue dari tahun 2010. foto-foto, tulisan-tulisan, lagu-lagu, film-film banyaaaak banget gue taruh di Millie sampe pernah Millie kapasitasnya hampir penuh, menyisakan sekitar kurang dari 10GB lagi. agak kasihan sama Millie, akhirnya sempet gue buang-buangin hal-hal yang nggak perlu gue simpen. Millie udah pernah ‘ngelewatin’ beberapa fase monumental dalam hidup gue (lewat foto-foto yang tersimpan di dalamnya) seperti saat gue diterima di UI, menjalani masa-masa maba di prodi filsafat, beberapa orang spesial yang fotonya pernah ‘lewat’ (hingga yang masih bertahan) di photobooth Millie, kejuaraan renang yang pernah gue ikutin, youth camp GCC yang keren sekaligus ‘ancur’ parah, acara-acara keluarga, pementasan yang pernah gue ikutin, banyaaaak banget. salah satu temen jurusan gue bilang “filsafat 2010 juga kehilangan (Millie), tau. foto-fotonya, nametag, tugas segala macem”. 

oke, kenapa Millie bisa ilang? ini dia, sedih banget ceritainnya. gue ngerasa bersalah sama diri gue sendiri, bokap-nyokap, semua orang yang dokumen-dokumennya ada di Millie, juga sama Millie, kenapa gue sebegitu teledor atau kurang protektifnya terhadap Millie. walaupun gue juga bisa nyalahin pihak lain sih, tapi sesal terhadap diri sendiri bakalan terus ada. waktu itu, fakultas gue lagi ngadain acara, Fesbud. di hari kedua, tanggal 9 Desember 2011, gue ikutan parade sama temen-temen sejurusan lainnya. daripada ribet bawa-bawa tas yang berat, tas gue taro di dalam stand jurusan gue, di samping kiri meja stand. singkat cerita, setelah gue kembali ke stand jurusan sepulangnya dari parade, gue berniat untuk menghubungi teman gue. satu hape gue ada di dalam tas (dimana Millie juga ada disitu), dan saat gue mencari tas gue, ternyata hasilnya nihil. tas gue nggak ada dimana-mana di dekat stand jurusan gue. panik dengan hal itu, gue bahkan udah sempet marah-marah membabi buta ke siapapun yang ngajak gue ngomong. untuk yang gue marahin waktu itu, maaf banget ya >_< gue waktu itu juga laporan ke panitia, dan hingga hari ini keberadaan Millie tidak dapat diketahui. 

jelas gue sedih banget kehilangan Millie. kadang gue ngerasa Millie perhatian banget sama gue, hal yang nggak bisa gue elaborasikan bahkan merupakan pernyataan yang gak masuk akal. tapi kalau gue meminjam istilah Martin Buber, antara gue dan Millie terkadang (jika tidak sering) ada relasi I-Thou. well, mungkin penggunaan analogi I-Thou ini salah juga sih berhubung gue hanya paham sedikit mengenai hal ini. intinya, kadang gue melihat Millie bukan sebagai sebuah benda, tapi sebagai being yang lain, yang gue terima secara terbuka. bahkan gue kadang ngerasa kalo Millie melihat gue dengan cara yang sama. kehilangan Millie mungkin mirip rasanya seperti kehilangan seorang teman yang meninggal. ekstrim dan lebay banget sih, tapi saat lo kehilangan seseorang yang meninggal dunia, lo bisa ikhlas karena lo tau dia nggak akan kembali lagi dan setidaknya lo tau dia kemana (bisa sebatas ‘pergi ke dalam tanah’ hingga ‘pergi ke alam baka’ dst). kehilangan Millie, tidak seperti itu, karena gue nggak tau apakah dia akan kembali lagi dan gue juga nggak tau dia pergi kemana. gue belum bisa menentukan apakah gue sudah ikhlas dengan kepergian Millie atau belum, tapi gue pernah mengutarakan pada ranah blogging 140 karakter, “Mills, kalo suatu hari saya temukan kami di sebuah toko dan saya punya uang, saya janji untuk bikin kita sama-sama lagi. #kangenMillie”

you be good, okay?

keren!

keren!

(Source: gomat)

Tentang Donor Darah

Hugrao! Sudah berapa lama saya nggak nulis disini ya? Maaf, maaf, maaf! Uhuha! Menulis menjadi pekerjaan yang malesin semenjak Millie, Macbook saya pergi . Semoga tidak selamanya. 

“Tentang Donor Darah” dapat disebut sebagai tambahan dari sudut pandang saya untuk tulisan dari Ibu mengenai donor darah pertama saya di @america Pacific Place hari Sabtu kemarin tanggal 4 Februari 2012. Nah! Sabtu kemarin itu kami sekeluarga pergi ke @america sekalian orangtua saya mengantar saya ke Depok, padahal kuliah baru akan dimulai tanggal 13 Februari -_- Oke, kembali ke @america, Ibu yang update parah tentang apa-apa saja yang terjadi dimana saja mengusulkan ide tersebut saat tahu akan mengantar saya ke Depok hari Sabtu. Katanya sekalian jalan, begitu. Sampai di Pacific Place, kami langsung tjoes ke lantai paling atas (lantai 3 ya?) masuk ke @america yang keamanannya cukup rebek buat saya. Saya wajib menitipkan tas saya, blablabla.

Siiiingkat cerita, saya masih menyetujui ajakan Ibu untuk mendonorkan darah saya hingga saya mengisi formulir di kertas berwarna merah muda. Walaupun sempat ragu, akhirnya saya memutuskan untuk bertindak bodo amat, menjadi seorang “Yes Girl” seperti beberapa teman pernah menjuluki saya, dan lanjut mendonorkan darah saya. Pada kolom yang harus saya tulis dengan angka yang menerangkan donor saya yang ke berapa kali kah donor kali itu, saya tuliskan angka 001 (jangan protes, memang kolomnya dapat diisi oleh tiga digit angka kok).

Dengan hati berdebar-debar *tsaah* saya berjalan ke meja registrasi sambil menyerahkan formulir berwarna merah muda tersebut pada petugas dengan laptop terbuka di atas meja registrasi, sambil seorang petugas lainnya bersiap menusuk jari tengah kanan saya untuk mengecek golongan darah blablabla. Akhirnya datang juga momen itu: saat jari tengah kanan saya ditusuk. Ouch! Terakhir kali saya mendapati seorang petugas kesehatan menusuk jari saya adalah saat saya maba, hampir dua tahun yang lalu. Mungkin hampir semua dari kalian pernah mendengar bujukan dari petugas kesehatan yang mungkin pernah akan menyuntik kalian atau menusuk jari kalian yang berbunyi

“nggak sakit kok, seperti digigit semut saja”

Percayalah, itu semua bohong, kawan! BOHONG. Bagi saya, itu sakit, saudara-saudara! Ya, walaupun tidak sesakit patah hati sakit gigi yang katanya bisa sampai menangis kesakitan, tapi prosedur penusukan jari untuk mengecek golongan darah blablabla tersebut, wahai petugas kesehatan, TIDAK SAMA seperti digigit semut! Digigit semut itu gatal sementara prosedur tersebut sakit. Bedakan itu! Jadi jangan coba-coba bohongi saya -_- Oh well, sakit sih tapi masih bisa saya tahan. 

Setelah proses “katanya seperti di gigit semut tapi ternyata sakit” tersebut, meja berikutnya adalah pemeriksaan tekanan darah dengan alat ini: Tensimeter Air Raksa yang belakangan baru saya tahu namanya: tensimeter air raksa. D’oh! 

petugas pemeriksa tekanan darah berbasa-basi dengan saya, bertanya tahun kelahiran saya, kali keberapa saya mendonorkan darah saya pada hari itu, dimana saya kuliah, apakah saya bersama ibu itu (yang beliau maksud adalah Ibu saya) dan lain-lain. Setelah basa-basi singkat dan tekanan pada lengan kanan saya, ternyata saya diperbolehkan untuk mendonorkan darah saya. Dang! Makin berdebar-debarlah saya. Duduk enggan, berdiri tidak mau (jadi gimana?) saat menunggu giliran saya yang oh ternyata tidak lama. Mengapa… -_-‘

Saya memilih tempat tepat di sebelah kiri Ibu yang masih dengan tenang mengisi kantong donor. Saat saya hendak berbaring, tubuh saya dengan anehnya menutupi rasa gugup dan gelisah saya dengan mendorong saya untuk tertawa. Iya, saya tertawa sambil berkata, “halo. tolong, saya baru pertama kali ahahahaha. hahahahahaha” kepada petugas penyadap (iya, penyadap. Seperti pekerjaan agen rahasia, bukan? Namun begitulah nama prosedurnya menurut situs Palang Merah Indonesia Solo yang bisa kamu lihat disini) darah saya. Oh, semesta. Saya pasrah karena saya sudah kepalang tanggung untuk membatalkan rencana saya mendonorkan darah, selain karena didorong oleh rasa gengsi jika saya membatalkan rencana saya tepat di depan para petugas donor darah. Dengan manisnya otak saya mengaktivasi mode polos dengan bertanya “sakit nggak?” kepada petugas penyadap darah seperti saat saya berumur 13 tahun, momen pertama saya di infus. Dan sekali lagi, petugas penyadap darah menggunakan analogi

“nggak sakit kok, seperti digigit semut” 

HAIYAAA BOHONG! INI PASTI BOHONG!

Dengan ukuran jarum yang cukup besar, rasanya saya tidak bisa lagi menyamakan rasanya jarum tersebut menancap pada lengan saya dengan perasaan saat pertama kali saya di infus. Kalian yang cukup akrab dengan meme mungkin mengerti saat saya menggunakan istilah dan meme “Yao Ming” sebagai analogi perasaan saya waktu itu. “F*ck it!” mungkin kalimat yang cocok untuk saya sebut-sebut pada saat itu.

Hingga akhirnya jarum menusuk lengan, mengalirkan darah saya memenuhi kantung darah yang diberikan label “A” oleh sang petugas penyadap darah, sesuai dengan golongan darah saya. Sambil terus tertawa. Tidak. Berhenti. Tertawa.

Mukanya, Sob!

Lihat itu, lihat…muka…goblok itu… D’oh!

“pernah nggak ada orang yang donor sambil ngakak gini? hahahaha! ahahahahaha!”

Tanya saya kepada sang petugas penyadap darah yang….ternyata gak dijawab -_- Sial. Selama proses itu tangan saya sempat kaku dingin, maka saya gerak-gerakkan jari tangan saya.

Ternyata cepet banget sob donor darahnya! Abis itu saya dapet satu kotak berisi satu bungkus roti dan susu coklat :9 yang paling penting saya dapat… *ehem* Kartu Donor! Hahahahaha! Cukup nagih kok ini yang namanya donor darah, terlebih karena dapet roti dan susu gratis (plis…mir..?) ya it’s not that bad after all. Apalagi dapet suvenir tambahan dari @america berupa goody bag berisi t-shirt, stiker, dan pin @america 1st Anniversary.

Ya, tiga bulan lagi nggak dipungkiri saya akan mendonorkan darah saya lagi. Alasan apa yang membuat saya ingin melewatkan kesempatan ngakak parah sambil jarum besar menusuk lengan? ;)